Kamis, 27 Januari 2011

Hidup bahagia tak perlu kaya

Apakah rahasia hidup yang
bahagia itu? Banyak orang yang
mengidentikkan kebahagiaan
dengan segala sesuatu yang
berada di luar kita, seperti harta
benda yang kita miliki. Apakah
Anda akan berbahagia jika
mempunyai rumah yang indah,
mobil mewah, penghasilan yang
berlimpah, dan pasangan hidup
dan anak-anak yang tampan dan
cantik? Mungkin Anda akan
mengatakan ”ya.” Tapi,
percayalah itu tidak akan
berlangsung lama.
Kebahagiaan yang disebabkan
hal-hal di luar kita adalah
kebahagiaan semu. Kebahagiaan
itu akan segera hilang begitu
Anda berhasil memiliki barang
tersebut. Anda melihat kawan
Anda membeli mobil mewah,
handphone yang canggih, atau
sekadar baju baru. Anda begitu
ingin memilikinya.
Anehnya, begitu Anda berhasil
memilikinya, rasa bahagia itu
segera hilang. Anda merasa
biasa-biasa saja. Bahkan, Anda
mulai melirik orang lain yang
memiliki barang yang lebih bagus
lagi daripada yang Anda miliki.
Anda kembali berangan-angan
untuk memilikinya. Demikianlah
seterusnya. Dan Anda tidak akan
pernah bahagia.
Budha Gautama pernah
mengatakan, ”Keinginan-
keinginan yang ada pada
manusia-lah yang seringkali
menjauhkan manusia dari
kebahagiaan. ” Ia benar.
Kebahagiaan adalah sebuah
kondisi tanpa syarat. Anda tidak
perlu memiliki apapun untuk
berbahagia. Ini adalah sesuatu
yang sudah Anda putuskan dari
awal.
Coba katakan pada diri Anda
sendiri, ”Saya sudah memilih
untuk bahagia apapun yang
akan terjadi.” Anda akan merasa
bahagia walaupun tidak memiliki
harta yang banyak, walaupun
kondisi di luar tidak sesuai
dengan keinginan Anda. Semua
itu tidak akan mengganggu
karena Anda tidak
menempatkan kebahagiaan
Anda disana.
Kebahagiaan yang hakiki terletak
di dalam diri Anda sendiri. Inti
kebahagiaan ada pada pikiran
Anda. Ubahlah cara Anda
berpikir dan Anda akan segera
mendapatkan kebahagiaan dan
ketentraman batin.
Ada tiga pikiran yang perlu
senantiasa Anda tumbuhkan.
Saya mendapatkan gagasan
mengenai tiga kunci kebahagiaan
ini setelah merenungkan arti
tasbih, tahmid dan takbir yang
kita ucapkan tiap hari tapi sering
tanpa makna yang mendalam.
Saya kira ajaran seperti ini bukan
hanya kita temukan dalam Islam
saja, tetapi juga dalam ajaran
agama yang lain.
Kunci pertama kebahagiaan
adalah rela memaafkan. Coba
renungkan kata subhanallah.
Tuhanlah yang Maha Suci,
sementara manusia adalah
tempat kesalahan dan kealpaan.
Kesempurnaan manusia justru
terletak pada
ketidaksempurnaanny a. Dengan
memahami konsep ini, hati Anda
akan selalu terbuka untuk
memaafkan orang lain.
Seorang dokter terkenal Gerarld
Jampolsky menemukan bahwa
sebagian besar masalah yang kita
hadapi dalam hidup bersumber
dari ketidakmampuan kita untuk
memaafkan orang lain. Ia
bahkan mendirikan sebuah pusat
penyembuhan terkemuka di
Amerika yang hanya
menggunakan satu metode
tunggal yaitu, rela memaafkan!
Kunci kedua adalah bersyukur.
Coba renungkan kata
alhamdulillah. Orang yang
bahagia adalah orang yang
senantiasa mengucapkan
alhamdulillah dalam situasi
apapun. Ini seperti cerita seorang
petani miskin yang kehilangan
kuda satu-satunya. Orang-orang
di desanya amat prihatin
terhadap kejadian itu, namun ia
hanya mengatakan,
alhamdulillah.
Seminggu kemudian kuda
tersebut kembali ke rumahnya
sambil membawa serombongan
kuda liar. Petani itu mendadak
menjadi orang kaya. Orang-
orang di desanya berduyun-
duyun mengucapkan selamat
kepadanya, namun ia hanya
berkata, alhamdulillah.
Tak lama kemudian petani ini
kembali mendapat musibah.
Anaknya yang berusaha
menjinakkan seekor kuda liar
terjatuh sehingga patah kakinya.
Orang-orang desa merasa amat
prihatin, tapi sang petani hanya
mengatakan, alhamdulillah.
Ternyata seminggu kemudian
tentara masuk ke desa itu untuk
mencari para pemuda untuk
wajib militer. Semua pemuda
diboyong keluar desa kecuali
anak sang petani karena kakinya
patah. Melihat hal itu si petani
hanya berkata singkat,
alhamdulillah.
Cerita itu sangat inspiratif karena
dapat menunjukkan kepada kita
bahwa apa yang kelihatannya
baik, belum tentu baik.
Sebaliknya, apa yang kelihatan
buruk belum tentu buruk. Orang
yang bersyukur tidak terganggu
dengan apa yang ada di luar
karena ia selalu menerima apa
saja yang ia hadapi.
Kunci ketiga kebahagiaan adalah
tidak membesar-besarkan hal-
hal kecil. Coba renungkan
kalimat Allahu akbar. Anda akan
merasa bahwa hanya Tuhanlah
yang Maha Besar dan banyak
hal-hal yang kita pusingkan
setiap hari sebenarnya adalah
masalah-masalah kecil. Masalah-
masalah ini bahkan tidak akan
pernah kita ingat lagi satu tahun
dari sekarang.
Penelitian mengenai stres
menunjukkan adanya beberapa
hal yang merupakan penyebab
terbesar stres, seperti kematian
orang yang kita cintai,
kecelakaan lalu lintas, dan
sebagainya. Hal-hal seperti ini
bolehlah Anda anggap sebagai
hal yang ”agak besar.” Tapi,
bukankah hal-hal ini hanya kita
alami sekali-sekali dan pada
waktu-waktu tertentu?
Kenyataannya, kebanyakan hal-
hal yang kita pusingkan dalam
hidup sebenarnya hanyalah
masalah-masalah kecil.

1 komentar:

  1. eah...M'mg hdp bhg tak prlu kya,tpy ckp dgn kt m'mknai hdp kt....

    BalasHapus